TANGKIT BARU

Sejarah
Shekh Muhammad said

SEBUAH TINJAUAN PENGANTAR BIOGRAFI TOKOH PENDIRI DESA TANGKIT BARU SYEKH MUHAMMAD SAID (PUANG MUHAMMAD)

     Bismillahirrahmanirahim... Sejarah SYEKH MUHAMMAD SAID ini salinan dari buku BIOGRAFI TOKOH PENDIRI DESA TANGKIT BARU yang disusun oleh DRS.ANDI ZAINAL ABIDIN (PUANG PETTA RABBI) yang tak lain anak dari Syekh muhammad said itu sendiri dimana Syekh Muhammad said mempuanyai 8 putra. Andi Zainal Abidin adalah putra ke 7 dari 8 bersaudara dan buku ini disalin oleh Andi Amirullah (Petta Arullah) juga tak lain adalah keponakan dari penulis buku dari anak pertama Syekh Muhammad said yaitu ANDI TOLLA' (PETTA BILLA') yang kebetulan sekali anak ke 7 juga dari 12 bersaudara. Namun saya tidak terlalu panjang lebar membahas masalah silsilah saya disini yang IsyaAllah saya akan membuat di Tread yang lain seperti kata persembahan diawal salinan bukunya.

PERSEMBAHAN

KEPADA YANG CINTA KEMAJUAN,
    KEBESAMAAN DAN KEDAMAIAN SERTA
         MEMILIKI KECENDRUNGAN NURANI UNTUK
              MENGHARGAI HAL-HAL YANG BAIK YANG ADA
                   PADA DIRI ORANG LAIN, KUHARAP AGAR TAHU
                       BAHWA HANYA KEPADANYA KARYA INI KUPERSEMBAHKAN



NARA SUMBER :

1. Andi Mardjan Petta Unga
2. Andi Makkarateng Petta Sompa
3. Besse Hajar
4. Baso Mansyur ashaf
5. La Tundreng
6. Nuhaddakik Daenk Pabilla'
7. Sitti Rukayyah
8. Syekh Muhammad said bin Muhammad Yunus
9. Putra-putra Puang Muhammad
10.Para sahabat Puang Muhammad
11. Sumber-sumber lain yang berkaitan.

 

 

MENGULAS SEJARAH SYEKH MUHAMMAD SAID

Sebagai mana lazimnya pri kehidupan sosial masyarakat pada umumnya, demikian pulalah kondisi Desa Liu TurungpakkaE, Desa kelahiran Syekh Muhammad said yang menjadi tempat tinggal kaum kerabat dan keluarga beliau.
     Keadaan desa yang tenang dan sederhana merupakan cerminan jiwa penduduknya yang lugu dan sederhana pula. Pada saat itu didesa-desa hampit tak ada penduduk yang melakukan pencatatan mengenai kejadian sesuatu termasuk kejadian penting yang berkaitan dengan diri dan keluarganya, hampir kejadian berlalu begitu saja tanpa dicatatkan atau disimpan dengan baik sebagaimana mestinya guna keperluan dokumentasi dikemudian hari.
     Untuk mengetahui usia seorang anak misalnya, bianya hanya dilakukan dengan cara tradisional saja yaitu dengan cara menghitung telah beberapa kali anak tersebut terkena kewajiban Zakat Fitra, cara lain yang digunakan adalah dengan mengingat-ingat suatu peristiwa penting yang lebih populer dan lebih besar seperti gunung meletus, peristiwa banjir besar, gempa bumi dasyat, kejadian perang, wafatnya raja dan sebagian yang kejadiannya bersamaan atau hampir bersamaan dengan peristiwa sejarah yang terjadi dalam kehidupan mereka.
     Demikian keadaan desa liu pada waktu itu kondisi sosial dan adat istiadat masyarakat pada umum memang tak mendukung adanya pencatatan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Umumnya mereka merasa tak berkepentingan untuk membuat demikian, warga masyarakat cukup puas bila kebutuhan sehari-hari mereka sudah terpenuhi, mereka hampir tak pernah berfikir mengenai urgensi kehidupan hari ini untuk dikenang dan dikenang pada hari esok.
     Tipologi desa dengan kondisi sosial seperti di atas jelas tak dapat menyisakan banyak hal untuk diketahui dari suatu latar belakang kehidupan sebuah keluarga pedesaan, utamanya bila keluarga itu tergolong dari keluarga biasa.
     Lain halnya dengan keluarga ARUNG (Ningrat) pemuka agama dan kaum-kaum kesatria, Ketiga golongan diatas biasanya mewarisi epos yang diabadikan secara turun menurun berkaitan dengan leluhur mereka. Khususnya berkaitan dengan garis keturunan. Untuk yang satu ini biasanya mereka konsent pada catatan merka yang disebut SITAMBUK. sayangnya sitambuk yang berisi silsilah keturunan itu tidak lagi dipelihara oleh generasi yang kahir setelah kemerdekaan.